Festival Layang-layang Dusun Somokaton

Sumber : Dokumentasi Pribadi

Teriakan anak-anak beradu kesana-kemari. Sore itu, di Dusun Somokaton, Sitimulyo terdengar ramai-ramai dari timur Masjid Al-Muttaqin tepatnya di tengah sawah yang sedang ditanami pohon jagung. Semilir angin pun menemani para anak-anak, muda dan dewasa yang sedang duduk di pinggir sawah. Pemandangan langit juga dipenuhi dengan layang-layang berbagai bentuk dan ukuran. Ternyata pada Minggu (13/9), di Dusun Somokaton sedang diadakan festival layang-layang.

Festival ini diadakan dengan tujuan untuk meramaikan dusun dan melihat kreatifitas anak-anak. “Tujuannya untuk meramaikan dusun dan melihat kreatifitas remaja dan anak-anak untuk berkreasi membuat layang-layang. Karena anak-anak setiap hari pada main layang-layang, kemudian kita para pemuda punya inisiatif untuk mengadakan festival. Berharap antusiasnya banyak dan alhamdulillah kemarin berjalan dengan sukses.” Tutur Adi Slamet Wibowo selaku ketua pelaksana festival layang-layang yang sekaligus anggota Karang Taruna “Taruna Bhakti Sitimulyo”.

Terlihat dari antusiasme anak-anak, Frilian Amal Prayoga yang biasa dipanggil Frilian salah satu peserta festival ini mengatakan bahwa tujuan Ia mengikuti festival ini adalah untuk senang-senang sekaligus meramaikan supaya banyak peserta yang ikut.

Sumber : Dokumentasi Pemuda Somokaton

Untuk peserta sendiri tidak dibatasi umur, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Adi mengatakan bahwa ada 28 peserta, yakni 23 peserta dari Dusun Somokaton sendiri dan 5 peserta dari luar Somokaton. Untuk peserta dikenai restribusi sebesar Rp.5.000,00 dengan fasilitas minum dan doorprize.

Untuk sistem penilaian Adi menjelaskan bahwa ada 3 kriteria yaitu kreatifitas, ukuran dan keseimbangan. “Untuk kreatifitas itu ya yang bentuk nya unik atau rumit cara  buatnya. Untuk ukuran layang-layang yang di nilai adalah semakin besar semakin tinggi nilainya dan untuk keseimbangan layang-layang adalah  saat dinaikkan di atas tenang dan tidak berputar.” Ujarnya. Adapun juri yang menilai yaitu Bapak RT 1 dan Bapak RT 2.

Di akhir wawancara Adi berharap bahwa kedepannya supaya anak-anak semakin kreatif, tidak melulu bermain game online. Membuat layang-layang bisa sebagai contoh, karena salah satu anak Somokaton yang baru memasuki kelas 7 SMP sudah jadi pembuat layang-layang, bahkan sudah di jual dan ada yang memesan.

Reporter : Reni Safitri

Tulisan ini dipublikasikan di Artikel, Lingkungan dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.